Semua Itu Salahku

Seide.id – Jujur, saya tidak berkilah, membela diri, atau mencari kambing hitam untuk menyalahkan orang lain. Lebih baik saya mengakui terus terang. Semua itu mutlak kesalahan saya. Karena saya mudah percaya, iba, dan lemah hati mendengar keluh kesah orang.

Sekiranya saya tidak mau menuruti atau mendengar saran dan nasihat baik teman, saya mohon maaf dari lubuk hati yang terdalam.

Jika saya disalahkan, dibodoh-bodohkan, atau dihujat pun, saya tidak membela diri. Hal itu fakta yang harus saya terima dengan kebesaran hati.

Keledai jatuh di lubang yang sama, mudah tertipu, dan banyak cemooh menyakitkan yang dialamatkan kepada saya, tapi semua itu saya tanggapi dengan senyuman.

Bahagia Tanpa Prasangka
“Sesungguhnya, hidup kita ibarat di tengah kawanan serigala, sehingga kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.”

Faktanya, saya tidak termasuk orang yang cerdik pandai, karena saya mudah dikibuli, dibohongi, atau sering kali ditipu. “Semua itu,” menurut dan kata teman. Sedang saya tetap selalu sumringah.

Ketika saya menolong orang yang tampak sehat dan gagah, saya dikomentari teman salah sasaran. Karena membuat orang itu jadi pemalas. Lebih baik menolong orangtua yang renta atau mereka yang tinggal di kolong jembatan.

Ketika saya menolong orang untuk biaya sekolah, kontrak rumah, atau berobat anak, saya dibilang salah alamat. Karena orang itu melakukan hal yang sama pada teman-teman yang lain.

“Sesungguhnya hidup ini Allah yang menentukan, kita yang menjalani, dan orang lain yang mengomentari.”

Untuk menyikapi komentar atau nyinyiran orang, saya tidak mau dipusingi atau memasuklan hal itu ke dalam hati.

Jika saya ingin menolong orang, sesungguhnya ada pada niat dan tujuan yang baik itu.

Jika saya dibilang ditipu oleh orang lain, sesungguhnya orang itu yang menipu dirinya sendiri.

Sesungguhnya, saya membiasakan diri untuk selalu mohon ampunan Allah, jika perilaku hidup saya tidak berkenan bagi sesama. Saya juga selalu memaafkan mereka yang bersalah dan mendoakankannya.

Sesungguhnya, untuk hidup bahagia itu sederhana, ketika kita berani melepas prasangka dari pikiran sendiri.

Hati ini yang menentukan arah dan tujuan hidup yang hakiki untuk kembali kepada Pemiliknya.

Mas Redjo /Red-Joss

Menunggu dan Merindu

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang