Keinginan membantu orang yang disukai, membuat seseorang lupa akan aturan sebenarnya. Hal ini yang biasa menggelapkan mata para fans ketika idolanya melakukan kesalahan. Terus berusaha mengingkari bahwa benar idolanya salah.
“Quod licet iovi, non licet bovi,” apa yang boleh bagi Jupiter, tidak berlaku bagi lembu jantan. Salah satu ujaran Latin yang berarti If an important person does something, it does not necessarily mean that everyone can do it (double standard) Istilah ini sering digunakan untuk menyindir kaum bebal menjadikan hal keliru sebagai pembenaran.
Seperti juga contoh yang ditunjukkan dalam buku George Orwell, Animal Farm. Walau saya belum sempat membacanya, aktivis kesetaraan menjadikannya contoh tentang bagaimana situasi yang menyebabkan perilaku standar ganda itu bisa muncul.
Apa sesungguhnya perilaku standar ganda itu?
Ketika Dikta, penyanyi ex Yovie dan Nuno, mengalami pelecehan seksual di tempat umum minggu lalu, reaksi yang muncul malah berkonotasi seksual dari kaum perempuan. Tetiba para perempuan yang biasa emosi kaumnya dilecehkan, kini berubah menjadi pelaku. Ucapan-ucapan mereka cenderung seksis. Mereka lupa, siapapun bisa menjadi korban pelecehan. Tindakan itu tak pernah mengenal gender.
Bila diuraikan lebih lanjut, akan tergambar skema semacam ini.
Korban kekerasan seksual PEREMPUAN : ayo kawal, usut, lapor, hukum mati
Korban kekerasan seksual LELAKI : eh, mukanya menikmati kok, keenakan dia; lagian pake bajunya itu lho bikin rahim anget
Lihatlah juga kasus Sambo yang sedang menuju putusan pengadilan. Terjadilah hal-hal dari yang hendak diperistri Sambo, sampai menyampaikan hasratnya kepada Eliezer, salah satu bawahan Sambo yang berpenampilan rupawan. Padahal, pelaku kejahatan tetaplah pelaku kejahatan, mau berkharisma, mau ganteng atau tidak.
Hal serupa juga terjadi pada pelaku pelecehan seksual.
Pelaku pelecehan seksual buruk rupa : kenai hukuman seberat-beratnya, biarin mati di penjara sama napi lain yang main hakim sendiri
Pelaku pelecehan seksual ganteng dan menarik : ah, aku nggak nyangka dia melakukan itu, apa betul dia orangnya?
Kondisi semacam dikenal dengan istilah STANDAR GANDA. Sebuah kondisi dimana seseorang memberikan penilaian, reaksi, perilaku, atau sikap yang berbeda kepada suatu kelompok tertentu pada sebuah kasus yang serupa.
Contoh paling sederhana standar ganda adalah perilaku menangis. Dianggap normal bagi perempuan, tetapi lelaki menangis dianggap cengeng dan lemah.
Bagaimana perilaku STANDAR GANDA ini muncul?
Standar ganda terpicu akibat stigma yang dilekatkan masyarakat akan suatu hal. Standar itu lalu menjadi acuan atau bisa disebut norma seseorang bertindak, yang akhirnya menciptakan perbedaan antar satu kelompok dengan kelompok lain dalam situasi yang sama.
Beberapa standar justru tumpang tindih, tidak sesuai dengan realita. Dan, mirisnya lagi secara tak sadar kitalah yang mengikuti atau menciptakan standar ganda itu sendiri.
Dimulai dari dalam keluarga. Orang tua kepada anaknya, “Jangan suka main ponsel, belajar sana!” Namun, anaknya melihat orang tuanya terus main ponsel sepulangnya bekerja, tanpa mau ngobrol, atau bertanya bagaimana anaknya hari itu.
Dalam stigma masyarakat akan peran istri, perempuan umumnya diminta (wajib) mengambil segala tanggung jawab dalam keluarga yang dibangunnya bersama suami. Apabila pekerjaannya berantakan, dia dianggap gagal dan tidak menjadi istri atau ibu yang baik. Sementara bila suami tidak membantu, tidak banyak yang menghakimi, dan menganggapnya sebagai kewajaran.
Atau, ketika ibu menunggu anaknya bermain di taman, lalu sesaat mengecek ponsel, segera dituduhkan orang sekitar bahwa dia lebih menyayangi ponsel daripada anaknya. Dibandingkan bila ayah menunggu anaknya bermain, umumnya dianggap tidak apa-apa, dan sekitarnya memuji sungguh keren ayah yang mau meluangkan kesibukannya, menunggui anaknya bermain.
Mengapa PEREMPUAN yang sering berhadapan atau malah jadi pelaku perilaku standar ganda?
Menilik beberapa kasus yang terjadi, perempuan masih di posisi ‘korban’ dalam dunia patriarki karena kondisi kodrati. Dalam hal ini yang dimaksud adalah pengalaman spesifik perempuan, menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Pengalaman spesifik itu tanpa sadar sering digunakan sebagai faktor yang melemahkan pemberdayaan perempuan, meski sebaliknya sesungguhnya menempatkan perempuan sebagai makhluk istimewa pemelihara kehidupan.
Contoh, ketika seorang perempuan emosional, mudah saja dituduhkan karena dia sedang pms. Berbeda dengan lelaki, yang dianggap sedang memikirkan banyak hal.
Dalam dunia kerja, di mana masih terjadi perdebatan seharusnya secara kodrati perempuan di rumah saja, perilaku standar ganda menjadi lebih luas cakupannya, termasuk meremehkan kondisi fisik perempuan.
Perempuan yang bekerja di lingkungan maskulin, dan atau yang seringkali beranjak pulang ketika hari gelap, dianggap membuka peluang predator seksual untuk menjadikannya mangsa. Tak jarang juga mereka mendapat stigma perempuan ‘nakal’, dengan celotehan “Ngapain perempuan pulang malam-malam?” Lain halnya ketika lelaki pulang larut, mereka dianggap pekerja keras dan pantas dihargai.
Padahal tindak kekerasan atau pelecehan, baik verbal, fisik maupun seksual tidak mengenal hari masih terang atau sudah gelap.
Dalam hal relasi dunia kerja pun, perempuan seringkali dilihat sebagai ancaman bagi sesama pekerja perempuan lainnya.
Pegawai baru, lelaki muda segera dikerubungi staf perempuan untuk berkenalan. “Eh, dia kok cool banget! Udah punya pacar belum ya?” Sebaliknya, ketika pegawai baru perempuan dikerubungi staf lelaki, tanggapannya malah, “Genit banget sih, anak baru udah caper!”
Tak hanya itu, perasaan tidak aman perempuan dalam lingkungan kerja, bisa juga berujung dia pun menunjukkan standar ganda dalam penilainnya ke orang lain.
Seorang rekan kerja, lelaki muda dan ganteng memuji penampilanmu, “Cantik banget, Mbak!”. Sontak hati perempuan berbunga-bunga. Namun, ketika seorang rekan kerja, tua, dan gendut di kantor memuji penampilanmu, “Cantik banget, Mbak!”, seketika perempuan merasa dilecehkan.
Sebenarnya, apa tujuan seseorang berperilaku STANDAR GANDA?
Dari laman Effectiviology, dijelaskan bahwa tujuan orang memiliki standar ganda didorong oleh dua hal.
– Maksud tertentu
Keinginan membantu orang yang disukai, membuat seseorang lupa akan aturan sebenarnya. Hal ini yang biasa menggelapkan mata para fans ketika idolanya melakukan kesalahan. Terus berusaha mengingkari bahwa benar idolanya salah.
Kehendak menyakiti orang yang dibenci, agar tertuntaskan perasaan tidak suka kepada pihak tersebut. Contoh : rasa iri hati kepada sesama rekan kerja membuat kita mudah memfitnahnya sebagai perempuan yang menggunakan fisik untuk memikat orang lain, padahal kita juga sesama perempuan yang bisa terkena masalah fitnah ini juga.
Ditujukan untuk membuat argumen mereka makin kuat dalam berlawanan dengan prinsip tertentu. Tentang apakah perempuan bekerja di luar rumah atau tidak, seringkali pihak yang tidak setuju melontarkan argumen, mengeluarkan pernyataan anak-anak mereka pasti tidak terdidik dengan baik. Padahal tidak menjamin anak si pembicara terdidik dengan baik juga
– Tanpa maksud
Dorongan impulsif atau emosional
Hal ini biasa terkait dengan kasus yang sedang viral, kasus Dikta misalnya. Tetiba pikiran para ‘fans’ tertutup dengan tindak pelecehan yang terjadi, lalu membelokkan peristiwa menjadi kekaguman dan sikap tergila-gila kepada maskulinitas sosok Dikta.
Lalu, bagaimana merespons perilaku STANDAR GANDA?
Minimal mulai diri sendiri tidak melakukannya. Lalu, coba menganalisis mengapa orang-orang melakukan hal tersebut dan bagaimana mereka melakukannya.
Panduan untuk mempertimbangkan perilaku itu adalah apakah telah terjadi perlakuan tidak adil, tidak masuk akal dan menimbulkan isu moral akibat perilaku tersebut.
Bermula dari diri sendiri sungguh tak mudah, karena suatu saat kita juga dihadapkan pada situasi; mengapa kita bertindak keras kepada si A, yang memang tidak kita sukai; dibanding bertindak keras kepada si B yang lebih baik orangnya.
Yang bisa dijadikan pedoman, mungkin, apabila sekiranya yang kita pernah lakukan itu salah, maka jangan melakukan hal tersebut kepada orang lain. Yang tidak kalah penting juga yaitu tidak hanya menggunakan prinsip atau kepercayaan diri sendiri untuk menghakimi perilaku orang, karena akan terjadi bias dalam penilaian.
Pada akhirnya, memang sulit untuk berharap orang lain atau masyarakat untuk tidak berperilaku standar ganda. Jika ini terjadi, respons kita harus bergantung pada keadaan yang dihadapi. Misalnya, jika orang tersebut hampir tidak kita kenal atau pedulikan, kita dapat memilih untuk berhenti berinteraksi dengannya, dengan memberi tahu maupun tidak alasannya.
Sebaliknya, jika orang tersebut adalah atasan di tempat kerja, kita dapat memilih untuk pergi ke staf Sumber Daya Manusia perusahaan, agar mereka membantu mediasi menyelesaikan masalah tersebut.
Sekali lagi, berperilaku standar ganda kembali kepada pilihan setiap individu. Yang jelas, hal itu akan sulit untuk penyelesaian masalah kriminal, hukum, diskriminasi, kekerasan, dan atau pelecehan, pada ranah bidang apapun.
Yang jelas, bukankah kita juga tidak mau mendapat perlakuan standar ganda semacam itu?
CATATAN:
Istilah Toksik biasanya ditujukan untuk orang yang beracun atau memberikan dampak buruk terhadap orang lain, terutama terhadap psikis. Sifat toxic ( toksik) sudah selayaknya dihindari karena dapat mengganggu kenyamanan orang lain, membuat kita dijauhi banyak orang, hingga membuat kita sulit untuk memiliki hubungan sosial yang baik.
Parenting 101: Rasa Cinta, Kagum, Suka, dan Sayang, Tak (Seharusnya) Menyakitkan
SEPUTAR CHEATING: Hal Penting Lain Dari Sekedar Mengurus Perempuan atau Lelaki Lain






