Oleh MAS SOEGENG
Ada dua hal mengapa orang menaruh uang di bank. Selain aman, nasabah juga berharap memperoleh keuntungan dari bank. Sekarang hal itu tak menjamin.
Seorang nasabah – anak dan ibu- menyimpan uangnya di bank MB sejak 2015 yang berjumlah Rp 22 miliar. Saat akan diambil, ternyata kosong.
Tabungan Raib
Uangnya sudah ditilep oleh karyawan bank bersangkutan. Uang nasabah diambil untuk diputar agar memperoleh kepentingan pegawai bank itu sendiri.
Kasus ini diketahui sejak Februari 2020 namun tak mudah mengurus uang hilang di bank.
Bank berkilah menunggu proses penyidikan polisi. Semestinya apapun alasannya, bank harus bertanggungjawab. Soal urusan dengan pegawainya, itu belakangan.
Ternyata tidak. Bank lebih memilih mengulur waktu. Begitulah perbankan.
Uang mudah masuk bank, tapi tak gampang keluar dari bank. Itu baru dari tabungan atau deposito.
Tak mudah memperoleh bantuan bank untuk usaha kepada Pengusaha Kecil. Besarnya pinjaman bisa lima kali lipat dari jaminan. Mereka ketat menjaga keamanan uang bank, tapi tidak untuk uang nasabah.
Bahkan di saat pandemi, ketika pemerintah menghimbau bank mempermudah pinjaman kepada pengusaha agar ekonomi bergulir lebih sehat, bank tak mrlakukannya. Iu hanya sekedar himbauan. Bank bisa acuh, sebab niat orang mendirikan bank bukan untuk menolong orang.
Sekedar Himbauan
Di masa pandemi, saat pemerintah meminta bank melakukan rekstrukturisasi agar meringankan nasabah, juga dianggap omong kosong oleh bank.
Rektrukturisasi hanyalah keringanan sejenak – sekitar 6-12 bulan- namun di bulan atau tahun berikutnya, angsuran atau cicilan jadi berlipat-lipat. Nasabah selalu kalah, dikalahkan dan makin menderita.
Itu salah satu sebab, orang kecil memilih “bank” lain yang lebih praktis, mudah tapi mencekik kehidupan mereka ; Pinjol ( Pinjaman Online).
Lari Ke Ponjol
Ketika mereka memilih Pinjol, setahu saya, mereka tak pernah berpikir panjang tentang risiko. Mereka hanya mikir, pokoknya hari ini dapat uang, risiko belakangan.
Terbukti, banyak kasus penderitaan rakyat bawah karena Pinjol. Sampai Presiden turun tangan, baru Pinjol dibasmi. Tak usah bertanya kemana OJK karena lembaga ini hanya mengurus yang resmi-resmi belaka. Kalau Pinjol merepotkan mereka, meski mereka tahu, Pinjol akan bermasalah.
Semua terjadi karena bank tak punya konsep pemberdayaan kalangan bawah yang tak punya colletoral alias jaminan berharga yang layak perbankan.
Tak ada cerita bank menolong. Nasabah yang kehilangan uangnya Rp 22 milyard adalah salah satu contoh dari banyak kasus seperti itu. Sekali lagi, nasabah harus sabar dan mengelus dada.
Investasi
Kalau bank tidak aman, saya menyarankan mulailah memilih investasi yang layak dilirik. Banyak potensi bisnis yang terbuka dan prospek. Anda hanya perlu banyak membaca dan bertemu dengan orang yang tepat.
Apakah berarti saya memprovokasi orang untuk tidak naruh uang di bank ? Ya. Tidak ada manfaatnya, kecuali anda memang malas berpikir atau memiliki banyak uang yang sulit dihitung…..
Foto ; Matheuw






