TERJEBAK OVERTHINKING, BIKIN PUSING

Refleksi oleh Belinda Gunawan

Suatu pagi ketika membuka aplikasi ponsel, terbaca kalimat ini:

OVERTHINKING adalah kondisi di mana pikiranmu berhasil dikalahkan oleh rasa khawatirmu sendiri.”

Definisi lain: Overthinking adalah situasi, ketika kita berulang-ulang terjebak dalam pikiran dan situasi yang itu-itu juga sehingga mengganggu tidur, pekerjaan, hubungan dan kesehatan kita. Kita terus-menerus berpikir: bagaimana kalau… bagaimana kalau…?

Ya, ya, overthinking itu tidak perlu dan tidak produktif. Padahal seringkali terbukti, tanpa kita pikirkan berlarut-larut pun, “masalah” yang mengganggu pikiran itu selesai dengan sendirinya. Segalanya baik-baik saja. Beberapa bukti:

Ketika akan operasi katarak, karena pada dasarnya aku alergian, aku cemas kalau-kalau aku mendadak bersin atau batuk pas dokter mengutak-atik mataku. Nyatanya itu tidak mungkin terjadi sebab pasien diberi obat penenang.

Ketika membawa rombongan kecil kerabat pesiar ke Thailand dengan membeli “land tour” (berangkat sendiri, di sana ikut tur lokal), aku cemas kalau-kalau sesampai di bandara tidak ada yang menjemput. Lalu gimana, gimana, gimana…? Nyatanya begitu mendarat, di bagian arrival pihak tur sudah menunggu.

Ketika menunggu ART-ku pulang ketika ia divaksin, aku tidak sabaran menunggu kabarnya. Kutelpon berkali-kali, sia-sia. Tak pelak kubayangkan dia berdiri di tepi jalan menunggu taksi untuk pulang, lalu tiba-tiba pingsan. Jadi, ke IGD mana aku harus mencarinya? Nyatanya dia tidak mengangkat teleponku karena disuruh berbaring diam untuk menurunkan tensinya, sebelum bisa divaksin.

Kemarin pagi terjadi lagi. Beberapa satpam mengetuk pintu pagarku. Kata mereka, dari bawah tiang listrik di depan rumahku keluar asap. Aku dimintanya tidak menyentuhnya, kalau-kalau korslet. Aku juga diminta melapor ke PLN.

Balik badan dan berjalan menuju pesawat telepon, pikiranku cepat sekali melantur, memikirkan berbagai skenario dari yang “jinak” (bagaimana kalau listrik mati, yang membuat rumah gelap gulita dan air PAM tidak mengalir?) sampai yang yang “liar” (bagaimana kalau terjadi kebakaran, apa saja yang perlu kubawa, bagaimana aku menyelamatkan diri, aku tinggal di mana?).

Stop! Aku menyetop pikiranku dan memutar nomor PLN dengan prasangka, bahwa panggilanku tidak akan segera dijawab. Tapi nyatanya, baru dua kali memutar 123, sudah tersambung. Pengaduanku diterima, dan tak lama kemudian aku mendapat panggilan ponsel, bahwa teknisi akan segera datang. Sekitar satu jam kemudian mobil PLN sudah terparkir di depan rumah lengkap dengan tangganya yang panjang, dan teknisi dengan sigap membenahi kabel-kabel nun jauh di atas. Persoalan pun selesai. Diuji dengan test pen, tiang listrik sudah aman. Terima kasih, PLN!

Sedikit kesimpulan: Overthinking adalah pola, di mana pikiran dan kecemasan kita berputar-putar tak henti. Bukannya menyiapkan kita untuk segera bertindak, kecemasan berlebihan membuat kita terpaku dan tidak melakukan apa-apa.

Untuk menghentikan overthinking ada beberapa cara. Aku sih menggunakan cara sendiri, antara lain mengingat-ingat bagaimana di masa lalu semua kecemasan itu tidak terjadi; curhat dengan sahabat sampai akhirnya kami berdua menertawakan kecemasan sendiri; membangun trust kepada pihak-pihak yang bekerjasama denganku. Dan tentunya juga, berserah diri pada kehendak-Nya.

Mencari bantuan psikolog atau psikiater? So far belumlah. Aku belum separah itu. (BG)

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.