Anggaran penelitian BRIN senilai Rp 6 triliun dari Rp 26 triliun yang pernah digelontorkan. Hasil BRIN, nyaris tak dinikmati pertanian. Kalaupun toh ada, kemungkinan melalui individu.APetani harus berjuang sendiri.
Ada sebeuah kisah menarik yang saya temukan di laman facebook. Suatu hari, Bung Karnokedatangan Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej bersama istrinya yang cantik Ratu Sirikit. Sambil bercengkerama, Bung Karno yang tahu raja Bhumibol senang pertanian, menyuguhinya dengan durian. Raja yang terkesan dengan durian itu, meminta membawa beberapa buah ke negaranya. Tak lama, semua tahu, Thailand memproduksi Durian Montong yang paling terikenal di dunia. Hanya, tak semua orang tahu durian itu aslinya dari Indonesia.
Durian Montong berasal dari daerah Matasih, Kecamatan Karanganyar, Jawa Tengah. Indonesia tak mampu mengembangkan durian ini karena tak tersedianya lahan luas bagi buah-buahan. Lahan luas hanya diberikan pada perkebunan kepala sawit, karet dan tebu atau teh. Tak ada perkebunan luas untuk buah-buahan. Indonesia benar-benar krisis tanaman andalan. Tak hanya itu saja, Indonesia juga krisis petani. Menjadi petani tidak menarik lagi. Menjadi petani di Indonesia identik dengan kemiskinan.
Mereka miskin lantaran nyaris tak ada bantuan teknologi, pengetahuan dari pemerintah. Bantuan nyata hanyalah harga pupuk tertentu lebih murah. Petani tak hanya butuh pupuk, tapi juga keberpihakan dari pemerintah. Baik teknologi dan pengetahuan.
Tak banyak petani pintar di Indonesia. Sebanyak 90% pertanian di Indonesia dikelola petani dengan lahan skala kecil. Nyaris tak ada anak petani yang mau melanjutkan ayahnya menjadi petani. Tidak menarik. Apalagi anak-anak muda di kota. Sementara petani kita saat ini rata-rata usianya di ats 52 tahun. Pendapatan per bulan tak lebih dari Rp 2 juta. Banak yang kurang dari itu. Peran pemerintah nyaris tak ada.
Para petani yang sekarang ini masih aktif, terutama petani di perbatasan dan perkotaan harus mendidik dirinya sendiri. Urban farming adalah pilihan, selain pertanian modern dan luas, namun yang punya lahan seperti itu tidak tertarik melakukan inovasi atau mengembangkan pertanian.
Jangan tanyakan soal inovasi pertanian. Mandeg. Hanya sedikit petani modern yang mau melakukan penelitian. Petani juga tak bisa berharap sebuah penelitian muncul dari LIPI atau sekarang disebut BRIN ( Badan Riset dan Teknologi Nasional). Anggaran riset Rp 6 triliun hanya bisa dimanfaatkan beberapa perusahaan melalui individu. BRIN tak bermanfaat bagi petani. Yang kaya diperkayakan. Untuk petani, jangan harap.
Tak berarti, pertanian mati dan petani malas. Masih ada beberapa petani yang kreatif dan mau mengembangkan diri. Terutama petani perkotaan. Di tanaman hydroponik, sekarang sedang digemari Melon besar dan produktivitasnya tinggi. Petani di Omah Daun bahkan menanam cabe yang lebih tinggi melalui hydriponik. Di Desa Cikua, Parungpanjang, dikembangkan Jamur Tiram dengan berbagai media tanam yang sangat dibutuhkan masyarakat petani. Petani harus mau mengubah dirinya sendiri, sebab orang lain sudah tidak peduli, Dengan jamur tiram, petani nisa meningkatkan pendapatan mereka.
Jika pemerintah tidak punya perhatian, tak berarti pertanian mati dan berhenti. Petani yang ingin membuat perubahan harus melatih diri untuk menjadikan pertanian Indonesia lebih baik. Setidaknya meningkatkan pendapatan para petani itu sendiri. Petani perlu perlu uluran tangan. Meski kecil seperti yang dilakukan petani modern di atas, namun berdampak.
Apa boleh buat.
https://seide.id/pertanian-masa-depan/
https://seide.id/ekosistem-pertanian-china/






