Seide.id – Aku masih ingat betul, saat masih kanak-kanak, tinggal di desa yang tercinta Banjarejo, kabupaten Blora, salah satu hiburanku adalah pasar.
Iya pasar tradisional.
Rumahku terletak di tiga rumah arah timur dari pasar.
Pasar ini tidak setiap hari ada.
Entah kesepakatan masyarakat dimulai kapan, tapi hanya di “dina” Legi dan Pon, pasar itu ramai.
Di “dina-dina” yang lain (Wage, Kliwon, Pahing) pasar sepi.
Antara Legi dan Pon pun ternyata ada perbedaan.
Lebih ramai di hari pasaran Legi.
Pengunjung pasar lebih banyak.
Nah di saat masih bau kencur bin ingusan itulah, ketika hari nggak sekolah (saat itu masih SD) entah libur atau pas hari Minggu, aku kerap masuk ke pasar yang dekat rumah itu.
Nggak bawa uang, tapi nongkrong di depan tukang obat hahaha….
Ini hiburan gratis.
*
Ada bermacam-macam tukang obat yang pernah jualan di pasar desaku saat itu.
Ada yang menggelar dasaran yang sederhana.
Kain digelar di atas tanah, lalu menjejer obat-obat yang dijual.
Lalu mereka bercerita banyak hal, entah ada orang di depannya atau tidak!
Yang ujung-ujungnya cerita tentang khasiat obat yang dibawa.
Lalu ada juga penjual obat yang kalau jualan membawa binatang, biasanya monyet atau ular.
Awal-awal jualan dia melakukan atraksi bersama piaraannya.
Lalu dia cerita tentang manjurnya obat yang dijual.
Ada pula penjual obat yang suka main sulap.
Kertas koran disulap jadi uang.
Saat itu, seingatku uang pecahan paling besar adalah sepuluh ribuan rupiah.
Dengan berbagai gerakan, robekan kain koran bisa menjadi beberapa lembar uang sepuluh ribuan.
Kuingat, saat itu aku takjub beneran.
Sampai rumah, dengan semangat kuceritakan kejadian tadi ke ayahku.
Kusampaikan bahwa itu benar-benar terjadi!
Ayahku hanya tertawa sambil berkata, “Kalau dia bener-bener bisa mengubah kertas koran bekas jadi uang, yah…. Nggak usah jualan obat di pasar!”
Aku terdiam.
Bener juga ucapan ayah, kata batinku saat itu.
Tapi yang kulihat tadi juga bener kok, kertas koran jadi duit!
Yang paling heboh dan menarik adalah penjual obat sehat yang memakai tenda besar.
Sekitar jam 6 pagi tim mereka sudah datang, menata tenda.
Menggelar dasaran.
Menyiapkan pengeras suara.
Jadi meski tidak didekat mereka, termasuk ketika aku di rumah pun mendengar teriakan-teriakan saat mereka berjualan.
Sebenarnya kalimat yang diucapkan ya itu-itu saja.
Tapi yang namanya anak kecil di desa, pas waktu kosong, pengin juga melihatnya.
Sekitar jam 7 biasanya tukang obat itu sudah dikerumuni banyak orang.
Biasanya diawali dengan cerita-cerita pendek (yang menurut dia) pengalaman, artinya kisah nyata yang lucu-lucu. Lalu nyerempet-nyerempet ke nasihat. Seperti: ‘Raga kuwi ragangan Mas, digawe kerja saben dinane kudu dirawat, dijaga!”
Sampai hafal aku saat itu.
Lalu yang paling kami tunggu adalah pas acara sulap.
Penjual itu (biasanya ditemani beberapa temannya), sangat piawai membangun suasana.
Dari yang semula ngakak-ngakak penuh tawa, bisa berubah serius saat ada pertunjukan sulap.
Anehnya sulapnya itu ya itu-itu terus.
Tapi tetap banyak orang terpana.
“Bapak-ibu saya akan melakukan sulap menghilangkan Pr (maksudnya testis, dia mengucapkan dalam bahawa Jawa) bocah-bocah yang di depan ini. “
Langsung aku yang jongkok di depan, bersama-sama anak2 lain, bergeser ke belakang hehehe….
Ritual pun langsung dimulai, “Sim salabim… semprong bolong buntu alu….padha guru aja ganggu, padha kanca aja nggoda! Yap….”
Langsung tangannya bergerak seakan menarik sesuatu dari arah salah satu anak di sana.
Lalu tangan kanan itu menggenggam, seakan menyimpan sesuatu di dalamnya.
“Iya ini sudah kupegang satu…. Ayo dik, digerayangi. Bener nggak tinggal satu?”
Anak yang ditunjuk, kalau bandel biasanya hanya cengar-cengir…. Tapi kerap ada anak yang kaget, takut, melonjak dan langsung menangis, bila dia setelah meraba selangkangannya sendiri dan merasa “telurnya” berkurang satu. Hahaha….
“Ora usah bingung…. Sedhelok aku balikke!”
Tak lama lalu (menurut dia) dikembalikan.
Entahlah ini kebenarannya.
Bener-bener diambil dan dikembalikan testis itu? Atau hanya ilusi?
Pun apakah hipnotis, sulap atau sihir? Aku nggak tahu.
Tapi yang pasti aku ikut menikmati keseruan itu.
*
Dari kisah Tukang Obat di tengah pasar aku merenung.
Aku mendapat pesan moral dari mereka.
Pertama, mereka sejatinya tak pinter-pinter amat, tapi semangatnya yang hebat.
Mereka ngomong ngalor ngidul ngetan ngulon, tidak malu.
Percaya diri.
Inilah yang perlu dijadikan pelajaran.
Masalah bener atau salah dalam ucapannya, itu urusan lain.
Tapi keberanian jualan obat perlu dikasih jempol.
Kedua, mereka di zaman itu sudah mahir dalam marketing.
Mereka tidak langsung jualan obat.
Tapi memberi hiburan dulu kepada penonton.
Ada yang pakai binatang ataupun sulap.
Sulap mengubah kertas koran jadi uang ataupun atraksi menghilangkan telur kemaluan.
Jadi?
Jangan marah andai Anda disebut sebagai Tukang Obat.
Karena sejatinya mereka adalah orang hebat.
Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah. Marah kok sedikit-sedikit.
Setio Boedi






