Lebih dari 30tahun sejak kehadirannya di Sukabumi, Bali, dan Sumatera Utara, aktivitas wisata arung jeram sungai (dengan segala bentuk turunannya) di Indonesia mengalami masa sukses, kalau tidak bisa disebut booming dimana-mana. Minat berarung jeram tak datang hanya dari kalangan menengah atas, eks-patriat dan wisatawan mancanegara, tapi juga kalangan lebih luas lagi.
Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI
Seide.id – – Bahaya mengancam di tiap aktivitas olah raga arus deras (ORAD) atau arung jereram, dan karenanya – pascaCitarum Rally 1975/1976 – masyarakat luas berharap aktivitas ini dihindarkan. Namun ini tidak memupus semangat anak muda Indonesia untuk (diam-diam) terus menekuni aktivitas ‘main air’ ini. Memperbaiki teknik, perlengkapan dan mengedepankan safety.
Seorang di antara percinta alam itu adalah Lody Korua, yang sepulang Exspedisi Operation Raleigh (gerakan pemuda dunia pro-lingkungan yang digagas Pangeran Charles, kini Raja Charles II dari Inggris) tahun 1987 di Taman Nasional Manusela, Seram, Maluku, Indonesia, Lody membeli sebuah perahu karet merk Avon (bahkan kemudian Lody membeli lagi sebuah Avon Pacthmaker) buatan Inggris.
Dengan perahu Avon pribadi itu Lody belajar mendayung perahu karet, yang memang didesain pabriknya untuk aktivitas arung sungai, hingga layak disebut andal. Belajar sendiri, karena tak ada siapa pun saat itu yang bisa diminta mengajar. Belakangan, tiap Sabtu-Minggu, Lody juga berbagi pada banyak teman untuk ikut berlatih arung jeram di Sungai Cimandiri dan Citatih di Sukabumi, Jawa Barat.
Tak sekadar mengajak teman berlatih, bermodal 2 perahu karet Avon milik pribadinya, tahun 1990 (dengan bendera Tropical Adventure – perusahaan jasa pelatihan di alam bebas yang didirikannya bareng Bongkeng Wanadri dan almarhum rocker Hari Moekti) Lody juga mulai menjual paket arung jeram, khususnya kepada para ex-patriat asal Jakarta
Di kurun yang sama di Sumatera Utara, ada almarhum Abdul Halim (George) bin Jackstadts yang bersama beberapa teman mendirikan Sumatra Savages, dan antara lain menjual paket ‘ekspedisi’ arung jeram di Sungai Asahan, Sumatera Utara. Setahun sebelumnya, wisata arung jeram diperkenalkan Sobek Expedition asal Amerika (bekerjasama dengan pihak Indonesia) di Sungai Ayung di Bali.
Paket wisata arung jeram Sungai Ayung dijual Sobek lewat gerai-gerai khusus di banyak hotel di Bali, USD $57/Pac (kurs Rp2100/USD $1). Dari hotel, peserta dijemput-antar mobil ke bagian hulu Sungai Ayung di Ubud, dibawah arahan Nick Blackbeards dan drive-guide (pemandu dayung) I Made Brown, saya dan Crikrishna Wicaksana (putra sulung, kini Anggota M-640-UI) arung jeram ke hilir
Gerakan Sobek di Sungai Ayung Bali, Sumatera Savages di Sungai Asahan Sumatera Utara, dan Tropical Adventure di Cimandiri dan Citatih, amat sangat bisa dicatat sebagai cikal-bakal hadir dan masuknya aktivitas arung jeram (yang semula hanya jadi domain aksi kalangan pencinta alam untuk berekspedisi melintasi jeram sungai) ke ranah pariwisata di Indonesia.
Sejak tahun 1990, Lody dan rekan-rekannya di Tropical Adventure juga kerap ekspedisi pengarungan ke berbagai sungai di Indonesia. Satu yang serius ditelitinya adalah Sungai Citarik di Sukabumi, Jawa Barat. Di sungai yang berhulu di Gunung Halimun itu pula, awal 1995, Lody jumpa para pejabat Sobek White Water Rafting Ayung River, antara lain Dave Heckman, James Cassey, dan Nick Blackbeards.
Dari pertemuan itu. Lody dan Nick Blackbeards sepakat mendirikan operator wisata arung jeram pertama di Citarik, BJ’s (Buaya Jeram Sungai) Rafting, yang berafiliasi ke Sobek Ayung Rafting Bali. Di BJ’s pula hadir I Made Brown. yang bersama Lody menjadi pihak pertama yang menggelar ‘sekolah’ arung jeram Indonesia dengan siswa terdiri dari apara pemuda putus sekolah asal Citarik dan Cimandiri.
Sekolah arung jeram itu berlanjut ke Sungai Ayung, dengan asesor pelatihan dari IRF. Lulusan terbaik kursus itu adalah Rohendi alias Abo. Namun 1 Agustus 1995 Lody memilih keluar dari BJ’s, dan mendirikan Arus Liar bareng Amalia Yunita, Deni AR Rasyid, John Lede, almarhum Hari Moekti, dan almarhum. Henri Kawilarang. Belakangan almarhum aktor Adjie Massaid menyusul tanam modal.
Kehadiran operator BJ’s Rafting (yang belakangan diakuisisi Iyel/Vryedta Ilfina dan Eelco Koudijs menjadi Caldera Rafting) serta Arus Liar sekaligus bisa disebut sebagai pemicu tumbuhnya perekonomian sekitar. Genjarnya pemberitaan pers, memancing minat pasar arung jeram wisata (kalangan menengah-atas Indonesia, ex-patriat, dan wisatawan mancanegara) untuk datang ke Citarik.
Percaya tak percaya, hanya dalam tempo kurang dari 4 tahun, kawasan Citarik (khususnya desa-desa di sekitar Jembatan Besi Pajagan, Cikidang) yang awalnya bisa disebut sebagai “tempat jin buang anak” mendadak berobah ramai. Jalan sempit, licin, berliku dan aspalnya lebih sering terkelupas, sepanjang 61Km yang menghubungkan Cibadak – Citarik – Palabuhanratu. mendadak dipercantik Pemda.
Kehadiran operator wisata arung jeram di Citarik, memang menguntungkan Pemda Kabupaten Sukabumi. Wisatawan Mancanegara dan Wisatawan Nusantara datang dan tinggal di Citarik yang jadi terbuka dan dikenal dunia. Pemda memperoleh PAD (Penghasilan Aseli Daerah) dari aktivitas arung jeram, yang bahkan menyebut arung jeram sebagai primadona pariwisata Kabupaten Sukabumi.
Masyarakat sekitar juga diuntungkan. Kehadiran operator jasa wisata arung jeram bukan cuma menyerap tenaga kerja (pemuda putus sekolah) setempat, tapi juga menumbuhkan gairah masyarakat untuk menangkap keramaian yang ada dengan mengembangkan unit-unit usaha kecil dan menengah. Restoran, warung kelontong, jasa transportasi, pasar swalayan, pom bensin, Menara BTS kini ada di kawasan itu.
Di tempat lainnya, operator jasa wisata arung jeram sungai (dan turunannya) juga bermunculan. Tak cuma di aliran Cimandiri dan Citatih yang masih seareal Kabupaten Sukabumi, tapi juga di daerah dan kota-kota lainnya di Indonesia. Wisata Arung Jeram Indonesia yang dimulai di Bali dan Kabupaten Sukabumi, mendadak jadi bagian dari cara baru masyarakat dunia untuk berwisata ke Indonesia.
Lebih dari 30tahun sejak kehadirannya di Sukabumi, Bali, dan Sumatera Utara, aktivitas wisata arung jeram sungai (dengan segala bentuk turunannya) di Indonesia mengalami masa sukses, kalau tidak bisa disebut booming dimana-mana. Minat berarung jeram tak datang hanya dari kalangan menengah atas, eks-patriat dan wisatawan mancanegara, tapi juga kalangan lebih luas lagi.
Idealnya, minat masyarakat dan pangsa pasar yang kian membesar ini disikapi secara bijak oleh operator arung jeram. Tapi yang terjadi, di banyak tempat banyak operator merasa ‘kuat’ jalan sendiri dengan apa yang mereka mau, demi menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, dan dengan begitu berarti pemasukan kian besar bagi perusahaan, sekaligus tembahnya setoran PAD buat pemerintah daerah,
Buntut dari itu, antara lain terjadi ‘perang harga’ baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ada saja operator menjual paket wisata lebih murah dibandingkan operator lain di sungai yang sama. Bukan salah masyarakat bila lantas membeli paket paling murah, atau yang ditawarkan dengan iming-iming mendapat hadiah / fasilitas tertentu. Yang penting terjangkau dan bisa menikmati arung jeram.
Boleh-boleh saja harga paket diturunkan. Namun hal-hal mendasar tak boleh dipangkas. Drive-guide berpengalaman harus dipertahankan sesuai standar honor dalam perjanjian kerja. Dana untuk safety dan keselamatan wisatawan, tak boleh dipangkas hingga pengawasan kendor dan (sebagaimana info para legenda) kecelakaan saat arung jeram pun terjadi di mana-mana, bahkan di Citarik bulan lalu.
“PNS Bojonegoro Meninggal karena Asma Kambuh saat Rafting”, begitu Radar Bromo menngungkap kecelakaan Sungai Pekalen Jawa Timur, Sabtu, 22/01/2022. Benarkah kematian saat arung jeram terjadi karena korban mengidap asma? Mengapa peserta pengidap asma boleh ikut arung jeram? Adakah SOP benar-benar disiapkan? Tak ada pihak komapeten menjawab Peristiwa berlalu begitu saja
Beberapa orang legenda menyebut, sebenarnya ini urusan Federasi Arung Jeram Indonesia / FAJI. Karena aktivitas arung jeram menyangkut tiga pilar: pegiat ekspedisi, atlet pengejar medali/prestasi, serta operator jasa wisata arung jeram. Tapi, “FAJI sepertinya hanya sibuk mengurusi sertivikasi kemapuan pedayung serta persiapan atlet untuk PON dan lomba-lomba lainnya.”
Di Bali dan Magelang, memang ada paguyuban operator. Tapi di luar itu operator wisata arung jeram jalan sendiri dan seperti diminta mengatasi problemnya sendiri, Tak ada pihak kompeten turun tangan mengatasi soal perang harga. Siapa peduli dengan operator yang sebelum pandemi Covid-19 didukung seratus pegawai, kini tinggal 2 orang. Selebihnya? Karyawan lepas, berhonor bila tenaga diperlukan. .
Uniknya, ucap beberapa legenda, kecelakaan-kecelakaan ini seperti disembunyikan dari telinga umum. Tak ada evaluasi konprehensif dan bertanggung jawab di tiap kejadian kecelakaan arung jeram, dan ini terjadi jauh sebelum merebaknya Covid-19. Sementara pemerintah sebagai pemangku kepentingan, pemberi izin usaha dan pemilik regulasi, seperti menutup mata. Yang penting PAD masuk.
Situasi tidak kondusif ini, bagaimana bisa meminimalkan kecelakaan saat arung jeram dilaksanakan operator sisata, dan bagaimana bisa menggairahkan lagi aktivitas wisata yang jelas terbukti amat mendukung kepariwisataan nasional serta menghidupkan gairah perekonomian daerah-daerah, ini mendorong legenda turun lagi ke Citarik membentuk Asosiasi Perusahaan Wisata Arung Jeram Indonesia.*(Bersambung)
26/11/2022 PK 15:04 WIB






