Cinta – Sebuah Renungan

Seide.id – Berbicara tentang cinta, tidak sekedar berbicara tentang pertemuan sepasang mahluk ciptaan Tuhan yaitu laki-laki dan perempuan. Atau cinta yang bersarang dalam akal pikiran lalu menyebar dalam libido dan mentransformasikannya ke otak sehingga otak mengirim sinyal-sinyal ke denyut nadi yang berefek menjadi beragam getaran tak terduga apabila laki-laki dan perempuan saing bertatap mata, atau bersentuhan. Namun di sini, bukan cinta seperti itu saja yang dimaksud, ada cinta universal di mana keberadaannya mulai terhapus oleh materi, politik dan kekuasaan sehingga rasa cinta itu pupus, tergantikan dengan nafsu angkara yang membutakan mata, hati dan pikiran yang jernih.

Di situasi kekinian, rasa cinta itu sudah memudar, manusia telah menjadi mahluk ‘mati rasa’ yang dengan mudahnya menghabisi, manjajah, manusia lainnya demi penguasaan terhadap hal-hal yang sangat menyakitkan hati. Bahkan agama pun dijadikan alat untuk mengerahkan segala yang jahat atas nama cinta, atas nama kekuasaan.

Cinta Eros maupun Agape artinya kian bias, manusia menisbikan cinta ke dalam satu pengertian yang egois dan tidak humanis. Seperti kita ketahui cinta eros adalah kehendak kebaikan bagi diri sendiri, berusaha menjadikan manusia lebih baik lagi, sedangkan cinta agape merupakan cinta yang turun dari Tuhan. Cinta eros dan agape merupakan hal yang berlawanan.

Agape bagaikan matahari, ia mencurahkan sinarnya baik pada pendosa maupun orang yang mulia, ia menebus pendosa sebanding dengan memberkati orang-orang yang berhati mulia, kekayaan cinta yang tiada habis-habisnya tanpa diskriminasi pertimbangan rasional. Cinta Agape tidak dapat dipahami dan dikenali oleh pikiran rasional. Sedangkan Eros merupakan cinta ‘yang diperoleh’ melalui usaha positif dari golongan yang mencinta, ia tidak tercurah bagi para pendosa (Anatomi Cinta, hal 366). Cinta, baik Eros maupun Agape yang memupus akan berdampak fatal bagi manusia yang mengalaminya. Dunia akan hancur bila cinta tak lagi bersemayam di jiwa.

Cinta dan Cemburu

Cinta dan cemburu menjadi dua sisi mata uang. Keberadaannya makin fatal jika hal itu berkaitan dengan materi. Rasa tak puas dengan apa yang dimiliki akan membangkitkan kecemburuan yang kian mengganas dan membuat seseorang melakukan segala cara untuk menuntaskan rasa cemburu itu.

Di sini cinta libido maupun cinta Eros dan Agape maknanya buram. Namun cemburu bukanlah barometer pengukur seberapa dalam cinta dapat dibaca, akan tetapi dapat memperlihatkan seberapa dalam perasaan tidak nyaman dari seorang pecinta.

Secara ontologism, berdampingan dengan kebenaran dan keindahan, cinta merupakan salah satu bentuk energi atau kekuatan kreatif yang menyatukan, mengintegrasi dan menciptakan harmoni, cinta berlawanan dengan perselisihan yang ‘mencerai-berai dalam kebencian’. Naluri dari rasa sosial dan kegemaran bergaul, gotong-royong dan kerja sama biologis merupakan manifestasi dari energi cinta di dunia organic.

Cinta sepenuh hati, simpati, persahabatan, solidaritas, adalah manifestasi cinta pada dunia psiko-sosial. Cinta terus-menerus menangkal kekuatan yang mencerai-beraikan, ia memisahkan kekacauan dan perselisihan. (Pitirim Sorokin, Anatomi Cinta, Hal. 371).

Di sisi lain, Albert Camus bertanya, “Dengan nilai apa kita bisa bertahan di dalam era kekeringan spiritual? Dengan menyingkap ilusi-ilusi dan mempertanyakan semua kemutlakan, atas nama kemanusiaan.”

Bagi Camus, cinta adalah sebagai sebuah nilai yang tidak diberikan, tapi tumbuh dalam sebuah situasi yang hidup. Dalam hal ini di bukunya The Myth of Sysyphus Camus menggali implikasi dari bunuh diri untuk hidup atau untuk tidak hidup. Sedang dalam The Rebel berisikan membunuh untuk mempertahankan diri atau tidak mempertahankannya, buku ini menjadi bacaan yang penuh renungan bila dikaitkan dengan cinta.

Apakah cinta telah berdiri kokoh sehingga merubah kepribadian seseorang untuk mempertahankan pendiriannya?

Apakah cinta sedemikian dahsyatnya menggerakkan jiwa-jiwa yang kecewa sehingga berubah menjadi serigala yang berprinsip mempertahankan cinta namun dengan cara yang salah?
Atau jangan-jangan hasil penelitian Sigmund Freud benar, bahwa impotensi menjadi faktor yang kuat yang muncul dari kompleksitas dalam pikiran seseorang, sehingga muncul perasaan yang mendalam (fiksasi).

Jika itu benar, maka sungguh cinta yang terakumulasi dari jaringan rasa yang lebih manusiawi telah tercemar oleh rasa rendah diri akibat hal seperti itu, sehingga magma dari rasa kecewa, tersembur melalui beragam cara dengan kerakusan duniawi yang sangat tidak manusiawi.

Sekali lagi, jika cinta kian muram, maka kepedihan melanda dunia. Sebab secara etis, cinta identik dengan kebaikan itu sendiri. Cinta diperlihatkan sebagai esensi dari kebaikan, tidak terpisahkan dari kebenaran dan keindahan. Cinta yang mengandung banyak aspek itu telah dipersatukan ke dalam nilai-nilai kebaikan absolute dari Tuhan. Kebaikan sejati selalu benar dan indah, kebenaran sejati selalu baik dan benar, dan keindahan sejati semuanya baik dan benar, (Pitirim Sorokin, Anatomi Cinta, hal 370). ***

(Fanny Jonathan Poyk)

Jurus- Jurus Cepat Menulis Cerpen

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis