Negeri konflik ini tengah menghadapi kekeringan paling buruk dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya hasil panen memburuk dan pendapatan rumah tangga menurun. “Situasinya benar-benar suram,” kata Fabrizio Cesaretti, deputi perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di Afganistan.
Seide.id – Pemerintah transisi Taliban di Afganistan belum mendapat pengakuan internasiona. Utamanya dari negeri negeri maju. Tapi KTT G20 pada Selasa (12/10) menyepakati bahwa bantuan kemanusiaan untuk Afganistan sangat mendesak, perlu segera dilakukan tanpa mengakui pemerintahan Taliban.
Dalam KTT khusus yang digelar secara virtual pada Selasa (12/10), negara-negara G20 menekankan pentingnya penyaluran bantuan kemanusiaan melalui organisasi internasional independen ke Afganistan, tanpa secara resmi mengakui pemerintahan Taliban.
KTT 20 berlangsung tanpa kehadrian Presiden Vladimir Putin dan Xi Jinping tidak berpartisipasi dalam KTT. Media berbasis Jerman, Deutsche Welle memberitakan.
Perdana Menteri Italia Mario Draghi mengatakan: “Semua pemimpin G20 harus menjalin kontak dengan Taliban, tetapi hal itu bukan berarti mengakui mereka sebagai pemerintah Afganistan.” Italia saat ini memegang jabatan kepresidenan bergilir G20.
Kanselir Jerman Angela Merkel dalam konferensi pers setelah KTT juga menekankan bahwa semua organisasi PBB di Afganistan harus didukung dengan sumber daya yang dibutuhkan untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan. Jerman akan memberikan €600 juta (Rp9,8 triliun), kata Merkel.
Mama Merkel juga mengakui pentingnya posisi Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia dalam menghidupkan kembali ekonomi Afganistan.
Menjelang KTT, Uni Eropa juga telah mengumumkan paket bantuan sebesar €1 miliar (Rp16,4 triliun) untuk Afganistan dan negara-negara tetangga guna menghindari krisis kemanusiaan lebih jauh. Paket bantuan tersebut sudah termasuk €300 juta (Rp4,9 triliun) yang sebelumnya dijanjikan untuk tujuan kemanusiaan.
Komisi Eropa mengumumkan bahwa dana tersebut akan disalurkan secara langsung ke Afganistan melalui organisasi internasional di lapangan. Para pemimpin G20 sepakat bahwa bantuan kemanusiaan juga harus berfokus pada program yang berpihak pada perempuan dan anak-anak perempuan di Afganistan.
Konflik berkepanjangan selama empat dekade ditambah kekeringan parah telah memperburuk situasi kemanusiaan di Afganistan. Sejak Taliban kembali berkuasa, warga tidak hanya bergulat dengan kondisi kerawanan pangan yang buruk, tapi juga krisis perbankan yang mengancam melumpuhkan bisnis.
Fabrizio Cesaretti, deputi perwakilan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) di Afganistan, mengatakan kepada DW bahwa Afganistan tengah menghadapi kekeringan paling buruk dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya hasil panen memburuk dan pendapatan rumah tangga menurun. “Situasinya benar-benar suram,” katanya. “Perbatasan dengan negara-negara seperti Pakistan juga ditutup, menyulitkan para petani untuk mengekspor produk mereka dan mencari nafkah,” tambah Cesaretti.
Cesaretti lantas mendesak negara-negara G20 untuk segera mendukung sektor pertanian Afganistan melalui program pendanaan. “Kami telah melakukan perjalanan antar provinsi untuk memasok benih, pakan ternak dan pupuk agar petani dapat mengolah tanah mereka dan peternak dapat memberi makan ternak mereka,” katanya.
“Negara ini memang belum masuk kategori bencana kelaparan, tetapi dengan lebih banyak dukungan internasional, kelaparan dan kekurangan gizi lebih lanjut dapat dicegah,” tambahnya. – DW. DE/dms






