Oleh HARRY TJAHJONO
Jika ada problem rumahtangga yang tergolong rumit, Doni dan Simon sering membicarakan dengan Pak Joko. Maklum, Doni dan Simon menganggap Pak Joko patut disebut pakar dalam masalah perkawinan bahagia dan awet sepanjang hayat dikandung badan.
Betapa tidak? Masa hidup dan “jam terbang” rumah tangga Pak Joko sudah berlangsung puluhan tahun. Usia Pak Joko kini 75 tahun. Ia menikah pada umur 20. Jadi, ia sudah melewati “perkawinan emas” sejak menikahi Bu Joko 55 tahun yang lampau. Bila saja suatu rumah tangga itu sebuah universitas, Pak Joko tentu layak menyandang gelar profesor doktor bidang ilmu perkawinan.
Sedangkan umur Doni dan Simon “baru” 45 tahun. Usia perkawinan kami juga belum mencapai 20 tahun (apalagi Simon tergolong terlambat, baru menikah setelah umurnya 35 tahun). Maka, untuk dapat mempertahankan keutuhan rumah tangga, Doni dan Simon merasa perlu banyak belajar dari pengalaman dan kiat sukses Pak Joko dalam membangun dan menjaga keutuhan perkawinannya.
Dulu, sebelum kenal Pak Joko, Doni dan Simon sering minta bantuan psikolog untuk membantu mengatasi problem rumah tangga yang kami hadapi. Tapi, karena alasan ekonomis, akhirnya kami berpaling pada Pak Joko yang dengan senang hati memberikan konsultasi gratis. Seperti juga sore itu, Doni dan Simon bertandang ke rumah Pak Joko untuk berkonsultasi tentang masalah seks.
“Belakangan ini, problem rumah tangga yang saya hadapi lebih banyak bersumber dari soal seks, Pak Joko,” kata Simon to the point.
“Saya juga begitu, Pak Joko,” kata Doni menimpali.
Pak Joko menggut-manggut. Itu berarti Doni dan Simon harus menjelaskan masalahnya secara lebih gamblang.
“Setahun belakangan ini, aktivitas hubungan intim saya dengan istri agak terganggu, Pak Joko. Entah kenapa, gairah saya jauh menurun. Itu membuat frekuensi aktivitas hubungan intim kami menjadi berkurang, menjadi sangat jarang,” lanjut Simon.
“Saya juga begitu, Pak Joko,” kata Doni membeo.
Pak Joko manggut-manggut.
“Celakanya, istri saya jadi curiga. Dia menyangka saya ada main di luar, sehingga tak lagi bergairah melakukannya dengan istri. Padahal, sumpah mati saya tidak pernah menyeleweng lho, Pak Joko. Buat apa nyeleweng? Wong sama istri sendiri saja malas melakukan, kok sama orang lain,” kata Simon.
“Iya…, saya juga berani sumpah nggak pernah nyeleweng,” kata Doni.
“Umur kalian berapa?” tanya Pak Joko.
“Empat puluh lima,” sahut kami berbareng.
“Wajar…., itu wajar,” kata Pak joko santai.
Doni dan Simon saling pandang.
“Semua laki-laki di dunia ini, sungguhnya memang harus melewati tiga masa kehidupan,” lanjut Pak Joko tetap santai.
Doni dan Simon bersiap menyimak.
“Tiga masa kehidupan itu adalah, pertama, tahap pandangan hidup. Kedua, pegangan hidup. Dan ketiga, perjuangan hidup.”
Doni dan Simon mencatat dalam hati.
“Tahap pandangan hidup, terjadi pada usia 17 sampai 40 tahun. Artinya, laki-laki pada usia 17-40 tahun, baru memandang wanita saja sudah hidup. Apalagi wanita cantik, baru melirik saja dia sudah bisa hidup.”
Doni dan Simon mengangguk-angguk.
“Tahap kedua, yaitu tahap pegangan hidup, biasanya dialami laki-laki sejak usia 41 sampai 65 tahun. Artinya, pada usia 41–65 tahun itu, kalau sudah dipegang baru hidup.”
Doni dan Simon menelan ludah.
“Sedangkan tahap ketiga, adalah tahap perjuangan hidup. Itu dialami laki-laki yang berusia 66 tahun ke atas. Seperti Doni ini, contohnya. Doni ini sudah masuk dalam tahap perjuangan hidup. Berjuang untuk bisa hidup. Kadang berhasil, tapi lebih sering gagal. Namanya juga berjuang, iya ‘kan?”
Doni dan Simon saling pandang.
“Nah, kalian sekarang ini sedang berada dalam tahap pegangan hidup. Itu yang harus kalian dan istri kalian sadari. Gairah untuk melakukan hubungan intim suami-istri, sebenarnya tak pernah padam. Selalu berkobar sampai mati. Wong namanya gairah., semangat…, mana bisa padam? Iya, ‘kan?”
Doni dan Simon mengangguk.
“Nah, sebaiknya kalian jelaskan ihwal tiga tahap masa hidup laki-laki ini pada istri. Kalau perlu didiskusikan, sampai dicapai kesepakatan. Kalau istri sudah mengerti dan memahami tiga tahap masa hidup suaminya, maka soal hubungan intim di antara kalian tentunya akan lancar kembali,” kata Pak Joko.
Doni dan Simon mengangguk, paham dengan apa yang disebut “masa hidup” oleh Pak Joko, yang setiap memberikan konsultasi memang lebih suka memakai ungkapan-ungkapan tersamar. Hanya pria yang sudah berumahtangga dan sering berbincang dengan Pak Joko sajalah, Doni kira, yang bisa menangkap dengan jelas maksud ungkapan tersamar itu. Lalu, kami pamit pulang.
Seminggu kemudian, Doni bertemu Simon. Wajahnya tampak cerah.
“Bagaimana? Sukses?” tanya Doni.
“Sukses. Kamu bagaimana? Sukses juga?” sahut Simon balik bertanya.
Doni menelan ludah, menggelang lemah. “Istri saya ndak mau melakukannya,” kata Doni pelan.
“Ndak mau atau malas?” tanya Simon.
“Mungkin kedua-duanya…,” jawab Doni.
“Kalau begitu pakai saja cara istriku. Praktis,” kata Simon.
Doni menatap Simon.
“Istriku sebetulnya juga ndak mau, tepatnya malas untuk membantu saya yang sedang menjalani tahap pegangan hidup ini. Lalu dia punya jalan keluar praktis..,” kata Simon.
“Apa itu?” tanya Doni.
“Dia membeli dipan kecil, ukuran untuk satu orang. Lalu, tempat tidur kami yang besar diganti tempat dipan kecil itu. Dengan begitu, kami terpaksa tidur dempet-dempetan. Secara alamiah, bisa nyenggol sendiri,” kata Simon berbisik.
Hmm…, boleh juga. Doni lantas berangkat ke toko mebel.*





