Perantau Spesialis

Seide.id -Saya tidak menyangka anak saya punya darah merantau. Kalau kakek dan leluhurnya merantau ke tanah Jawa saja sudah terhitung berani, dia memilih yang lebih jauh, ke tanah Eropa.

Perkara merantau yang dilakukan anak saya karena terpaksa. Apa boleh buat.. Kalau dulu kakeknya tidak yakin pendidikan di kampung halaman bakal punya masa depan, anak saya merasa dunia kedokteran yang dipilihnya rada-rada suram. Khususnya buat dirinya sendiri yang mau melanjutkan spesialis.

Di tengah Indonesia terbelenggu ketersediaan dokter spesialis, bukan rahasia lagi banyak cerita-cerita miring dokter senior sering mempersulit dokter junior saat mengambil spesialis.

Demikian Menkes Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, yang oleh Ketua Umum Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI), Brigjen TNI (Purn) dr. Jajang Edi Priyanto dibenarkan. “Tindakan dokter senior mempersulit juniornya untuk menjadi dokter spesialis merupakan cerita lama,” katanya.

Teman saya, seorang dokter, berani bilang, “Dokter muda yang orangtuanya memiliki keterbatasan biaya alias miskin, bukan keturunan dokter, bukan anak pejabat, bukan anak penguasa, susah menembus dokter spesialis. Apalagi anakmu pingin jadi spesialis jantung. Gak punya cantelan, wah berat, Dhan..”

Anak saya membenarkan itu. Saya sempat tercenung. Tapi katanya masih ada setitik cahaya terang lewat perjuangan Menkes yang mau menggolkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan atau Omnibus Law Kesehatan yang ditetapkan masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2023 oleh DPR RI.

RUU inilah yang membuat PB IDI ngamuk karena merasa yakin kewenangannya organisasi profesinya selama ini bakal dipreteli atau pelan-pelan malah dihilangkan.

Sementara Menkes bilang, peran IDI tidak akan dihilangkan tapi memberi peran organisasi lain berpartisipasi. Hal ini dilakukan dilakukan demi efisiensi, efektivitas, dan mendorong kompetisi SDM kesehatan di tanah air.

Di tengah kekisruhan Kemenkes versus PB IDI yang tak tahu kapan berakhir dan tidak jelas hasilnya bagaimana, anak saya akhirnya memutuskan untuk memilih meninggalkan Indonesia. Pilihannya sudah mantab.

Walau dia tahu konsekuensi dokter spesialis lulusan luar negeri susah diakui di sini, tidakmasalah. Bodo amat. Ada banyak negara kok yang mau menerima.

Setelah lebih dari delapan bulan mengurus administrasi segala keperluan pendidikan yang rumit, akhirnya kemarin saya mengantar kepergian anak menuju tanah harapan, Düsseldorf, Jerman.

Semoga di sana dia bisa mewujudkan cita-citanya.. Semoga setelah selesai negeri ini juga sudah lebih ramah dan welcome mau menerima dokter spesialis lulusan luar yang sangat dibutuhkan dan masih sangat kurang di tanah berpenduduk 270 juta ini.

Bayangkan. Jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan standar rasio 1:1.000, yang artinya, 1 dokter melayani 1.000 penduduk, maka dengan jumlah penduduk sekitar 270 juta jiwa, seharusnya Indonesia memiliki 270.000 dokter spesialis.

Berdasarkan laporan Profil Kesehatan Indonesia 2021 yang dirilis Kementerian Kesehatan, Indonesia memiliki 43.173 dokter spesialis di seluruh Indonesia. Sayangnya sebagian besar ngejogrok di Provinsi DKI Jakarta, yaitu sebanyak 7.592 orang atau sekitar 18 persen dari angka nasional.

Untuk menutupi kekurangan dokter spesialis, itulah yang jadi masalah. Biaya untuk menjadi dokter spesialis di negeri ini bukan cuma sulit dan rumit, tapi tidak murah alias mahal plus dengan segala intrak-intriknya.

Kenapa anak saya memilih Jerman?

Karena proses pendidikan spesialis di Jerman, ceritanya, setara dengan sebuah pekerjaan. Istilah di sana untuk dokter yang bekerja dalam rangka PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) adalah Assistenzarzt.

Jadi untuk memulai PPDS di Jerman yang dibutuhkan adalah lowongan kerja sebagai Assistenzarzt di Rumah Sakit. Buat mereka yang berhasil memperoleh lowongan tersebut bukan kerja rodi, tapi berhak mendapatkan gaji.

Tentu saja itu bukan perkara mudah. Tapi semua kesulitan pastilah bisa dilawan dengan kerja keras dan cerdas. Asal punya otak encer walau finansial terbatas, ada kemungkinan berhasil. Tapi kalau yang dihargai duit duluan, baru niat saja sudah langsung gagal.

Setelah melewati rintangan administrasi yang berat, akhirnya anak saya lolos dan bisa berangkat ke tanah impian atau tanah perantauan. Pesannya sederhana. Tinggal nyomot falsafah kearifan lokal tanah leluhurnya, “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Kata kakeknya, alias ayah saya, “Sejauh-jauh terbang bangau, tidak balik ke kubangan juga tak apa-apa. Karena mengabdi bisa di belahan dunia mana saja.”

Kalau perjuangan Menkes era Jokowi, gagal di jalan, siapa tahu Menkes era berikutnya era penerus Jokowi ( semoga Ganjar) masih memperjuangkan. Dan para spesialis perantau bisa mengabdi di negeri sendiri.

Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah s’lalu tentu kau dapat
(Ibu Sud)

Ramadhan Syukur

Vonis

Avatar photo

About Ramadhan Syukur

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah HotGame, dan K-Pop Tac, Penulis Skenario, Pelukis dan menekuni tanaman