Uma Pitu Ruang

Penulis : Debbi Safinaz

Rumah adat istiadat di setiap daerah yang ada di Indonesia, mempunyai arti dan nilai tersendiri.

Biasanya rumah adat itu bisa dijadikan cagar budaya setempat. Sehingga bisa menjadi obyek wisata di daerah tersebut.

Begitu juga degan hal nya Umah Pitu Ruang adalah
rumah adat suku Gayo salah satu Kabupaten yang ada di Banda Aceh. Yang artinya Rumah Tujuh Ruang.

Rumah adat suku Gayo ini sudah ada sejak zaman pra-kemerdekaan Indonesia yang menjadi salah satu peninggalan sejarah dan budaya adat Gayo.

Ada beberapa tempat dimana anda bisa melihat rumah adat ini salah satunya berada di desa Toweran yang merupakan rumah peninggalan Raja Baluntara. Rumah ini memiliki panjang 9 meter dan lebar 22 meter serta memiliki 4 buah kamar dan 2 ruang kosong dimana pembuatan rumah ini tidak memakai paku.

Di dalam rumah adat ini Anda bisa melihat benda bersejarah dan peninggalan Raja Baluntara.

Untuk melihat adat dan budaya Gayo Anda bisa melihatnya di Umah Pitu Ruang lain di Lingeh

Rumah yang berbentuk panggung, terdiri dari tujuh ruang di atas dan dibawahnya difungsikan sebagai tempat penyimpanan perkakas, pertanian dan kayu bakar. Ini merupakan tempat yang bersejarah
bagi masyarakat Gayo yang terletak tepat di Kampung Linge, Kabupaten Aceh Tengah dan sudah menjadi obyek wisata bagi wisnu maupun wisman.

Selama ini lokasinya sangat gersang. Sebab iklim disini terasa panas karena berada di dataran rendah sehingga terlihat rerumputan kering dan layu.

Sebaiknya rumah adat ini bisa terus dilestarikan menjadi salah satu situs sejarah agar bisa menjadi lokasi wisata yang mulai banyak dikunjungi oleh wisatawan.

Semoga tempat bersejarah di Gayo ini khususnya di ” Buntul Linge” ini tempat berdirinya Uma Pitu Ruang ini menjadi tempat wisata bersejarah di Tanah Gayo Takengon Aceh Tengah yang indah berseri.

Sekilas rumah adat tersebut sangatlah kuat apalagi bahan kayunya yang bermutu. Tetapi bagaimana pun kuatnya kalau tanpa ada perawatan. Bangunan tersebut akan roboh dengan sendirimya dimakan oleh zaman.

( Sumber : Warisan Budaya TakBenda Indonesia )