simvlacrvm – a political thriller novel

My Darling! Lihat di belakang saya? Itu para petugas pemadam kebakaran dan satuan khusus kepolisian sudah naik ke lantai lima. Mereka akan memadamkan api dan melakukan penyelidikan. Sementara mereka yang berada di dalam Gedung Annex masih terus dievakuasi…!” kata Hasief, yang tidak berhenti mengambil seluruh gambar yang tersiar secara live itu.

Para petugas kepolisian dan petugas sipil tampak sibuk dan heboh menyelamatkan diri dan berjaga-jaga, sambil memandang ke bagian atas gedung. 

My Darling…! Sesuai undang-undang tentang informasi, saya dan Anda My Darling…! berhak untuk mengetahui apa pun yang dilakukan para petugas negara, dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sehari-hari…!” kata Hasief off-screen, dengan kamera yang tampak bergerak mendekati sebuah mobil unit operasi kepolisian.

“Maaf, Pak di lantai lima itu tempat apa dan ada siapa…?” terdengar suara Hasief off-screen ketika kamera mendekati sosok petugas di dalam mobil “Nabadak” (Penjinak Bahan Peledak). “Betulkah itu lantai Tim DACC-Sus yang baru berhasil membongkar komplotan Amin Cyber Army? Apakah ledakan itu ada hubungannya…?”

“Hai…! Hasief…! Matikan kamera kau itu…!” kata petugas berwajah galak itu yang tampaknya sudah mengenali Hasief.

“Siap, Pak Bonar…! Maaf. Saya matikan dulu…!” kata Hasief, sambil seolah mematikan kamera, dan memasukkan peralatan vlognya ke dalam sejenis tas ransel.

Namun pemirsa ternyata masih bisa melihat citra gedung di layar kaca mereka walau hanya statis mengarah ke anak tangga, dengan saluran mikrofon tetap terbuka. Tas ransel itu memang sudah dirancang sedemikian rupa, dengan lapisan berlubang di bagian bawah, sehingga masih bisa menayangkan gambar dan suara. Sepotong gambar yang kini statis berikut percakapan Hasief, terdengar jelas walau suaranya off-screen.

“Kenapa ada di sini? Sudah tahu bakal ada kejadian rupanya…?” kata Bonar setengah menyelidik.

“Awak ada janji sama Iptu Tiara, pagi ini…!” kata Hasief berbohong.

“Oh, saya tidak yakin dia bisa selamat…!” kata Bonar keceplosan. 

Hasief tertegun mendengarnya. Matanya berbinar membayangkan begitu banyaknya kemungkinan! Hasief mau memancing info selanjutnya, tapi beberapa saat kemudian, seluruh pemirsa di segala penjuru tampak kecewa. Karena tayangan di saluran “MediaDarling” tiba-tiba terputus. Hasief menyadari hal itu melalui earphone bluetooth nya.

“Wah, kehabisan batere rupanya…!” kata sopir yang tadi berada di parkiran mobil di pekarangan gedung.

Demikian jugalah komentar para pemirsa di mana-mana. Jumlah mereka mungkin ribuan atau jutaan orang. Baik di dalam kota, di luar kota, di luar pulau, maupun di luar negeri, yang selama ini menjadi pelanggan, fans, atau pemirsa Vlog “Media Darling” Hasief.

Pemirsa pun segera beralih ke saluran televisi resmi, yang tengah melakukan tayangan secara nasional. Namun, banyak yang kecewa, karena hampir semua saluran tivi yang ada masih menayangkan program harian sesuai jadwal. Apalagi saat itu hari baru menunjukkan pukul 10.30 pagi. 

Sementara Hasief yang menyadari batere kameranya habis, kemudian pamit  kepada Bonar.

“Maaf, Komandan, saya pamit dulu. Mau ke mobil…!” kata Hasief, sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman, yang disambut Bonar.

“Siap. Hati-hati kau…! Jangan cari masalah yang tak bisa kau atasi!” kata Bonar yang tengah sibuk menangani pengamanan lokasi.

Hasief tersenyum mendengarnya. Omongan standard orangtua yang hanya berani mencari selamat. Ia menuju ke mobilnya di tempat parkir. Ia duduk di depan kemudi, lalu menghidupkan mesin mobil. Ia mengganti batere kameranya dengan batere cadangan. Sementara yang baru habis, di-charge di kotak khusus yang sudah tersambung ke lighter mobil. Sesaat kemudian, ia menyetel pesawat televisi mobilnya yang terpasang di dashboard.

Avatar photo

About Noorca M Massardi

Creative Writer, Author, Anggota LSF, tinggal di Tangerang Selatan. Karya Novel: Sekuntum Duri - Mereka Berdua - September - Straw - 180 - Setelah 17 Tahun. Kumpulan Puisi: Hai Aku Sent To You - Hai Aku - Ketika 66 - Pantai Pesisir