Stories of Baduy: Minyak Perawan Ambu Pulung

Heryus Saputro - Minyak Perawan Baduy

Selain membuat dengan mengekstrak santan yang dicampur cuka, warga Baduy juga membuatnya dari urap yang dicampur yuyu ( Parathelpusa convexa ) alias kepiting.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

“Nu kieu, mah, ti baheula ‘ge seu’eur di lembur kami, Kanekes.” (Yang begini, sih, sejak dulu juga banyak di kampung kami, Kanekes) ungkap Naldy polos, ketika kepadanya dan sedulur urang Cibeo lainnya yang kebetulan mampir ke rumah, saya perlihatkan sebotol VCO (Virgin Coconut Oil) yang diklaim pedagang sebagai ‘minyak kelapa murni”.

Karena ada kata ‘virgin’, beberapa toko on-line pun lantas memberinya label ‘Minyak Perawan’, dan kini nge-trend di kalangan wanita gaul, khususnya mereka yang suka jargon “back to nature” atau kembali ke (produk) alamiah. “Ini minyak produk luar negeri, loh…! Banyak manfaatnya buat kesehatan kita punya kulit, wajah, rambut, ibu hamil dan ibu yang sedang menyusui,” ungkap seorang wanita di sebuah arisan.

Ada penggal sejarah yang barangkali kita semua lupa, bahwa minyak yang dihasilkan dari isi buah kelapa (Cocos nucifera) bukanlah sesuatu yang baru bagi Indonesia. Jauh sebelum VCO masuk ke negeri ini, sebagai produk dagang yang diklaim diproduksi (sebagai yang pertama) negeri tetangga dekat, Indonesia sudah dikenal sebagai Negeri Nyiur Melambai penghasil utama kopra dunia.

Seperti kesaksian Naldy, urang Kanekes asal Cibeo, produk macam VCO sejak dulu sudah ada dan dibuat oleh kaum wanita di kampungnya, demikian pula dengan kawasan-kawasan tradisional lainnya di Indonesia. Sejak zaman Roro Mendut ataupun Dyah Pitaloka yang mengakhiri dirinya sendiri di geger Bubat, buah kelapa tak cuma dibuat minyak sayur, tapi juga sebagai bahan parfum kecantikan.

Kita sebagai bangsa harusnya juga ingat intrik dagang yang pernah ramai di masyarakat, sebelum ujug-ujug produk VCO (sekali lagi, diklaim sebagai produk luar negeri) muncul dan menjadikan Indonesia (yang sebagian warganya memang cepat gumun dengan sesuatu yang ber’bau’ luar negeri) sebagai pasar utama, Intrik dagang berupa isu negatif menyangkut minyak kelapa Indonesia.

Entah siapa dan pihak mana yang jadi penyebar pertama, yang pasti di masyarakat berkembang isu akan bahaya minyak goreng atau minyak sayur bagi kesehatan tubuh. Bahkan isu ini (sila buka catatan Anda) diperkuat pendapat banyak ahli yang diungkap dalam seminar dan diskusi berskala nasional. Intinya, masyarakat digiring untuk percaya bahwa ada bahaya besar menggunakan minyak kelapa.

Kita semua tahu bahwa akibat dari isu dagang tersebut, Indonesia seperti harus merevisi predikatnya sebagai negeri “nyiur melambai”. Banyak daerah penghasil kopra ambruk, karena kopra jadi kurang laku di pasar dunia dan minyak goreng jadi dihindari para ibu saat hendak mengolah masakan. Buntut dari itu semua, banyak kebun kelapa beralih fungsi jadi kebun komoditas lain atau jadi kebun kelapa sawit.

Bibit kelapa sawit (Elaisis guiensis Jack) asal Kepulauan Mauritius di timur Madagaskar, Afrika, dibawa Belanda dan ditanam di Kebun Raya Bogor (KRB) tahun 1848. Tanaman induk berusia 120 tahun ini mati pada tanggal 15 Oktober 1969.

Pohon koleksi KRB ini diakui dunia sebagai nenek-moyang kebun-kebun kelapa sawit di banyak negara. Indonesia memang yang pertama membudidayakan kelapa sawit, dengan membangun kebun di Tanah Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870. Tapi entah kenapa, faktanya, Malaysia ‘lah negeri utama penghasil produk kelapa sawit dunia, Malaysia yang juga ‘berkebun’ di Indonesia, hi…hi…hi…!

Minyak kelapa sawit pula yang menggeser dominasi penggunaan minyak kepala oleh masyarakat dunia. Bukan kebetulan rasanya, saat orang Indonesia (nyaris) tak lagi menggunakan minyak kelapa, ujug-ujug muncul VCO asal negeri tetangga, yang diklaim sebagai minyak kelapa murni bermanfaat obat. Lantas, minyak yang jadi dasar kosmetika Roro Mendut dan Dyah Pitaloka itu dibuat dari bahan apa?

Tradisi lama di Indonesia memang tak cuma memanfaatkan buah kelapa menjadi kopra atau bahan membuat minyak sayur. Santan kelapa juga biasa diekstrak dengan cara berbeda. Tidak dipanaskan di wajan sebagaimana membuat minyak klentik, istilah untuk minyak sayur buatan sendiri, melainkan (santan) difermentasi, dicampur asam cuka atau enzim dedaunan tertentu hingga menghasilkan minyak.

Di Kanekes, sejak dulu, saya juga biasa melihat para ambu (atau para gadis) membuat sendiri minyak kelapa murni sebagai bahan dasar kosmetika. Semangkuk santan dicampur 2 sendok cuka aren (Arenga arenga), atau daun papaya dan potongan buah nanas, didiamkan sehari semalam hingga didapat endapan minyak di bawah glendo (ampas santan yang gurih). Itulah VCO tradisional Kanekes Baduy.

Tahun 2005 saya diperkenalkan Don Hasman dengan Ambu Pulung, warga Baduy Panamping yang tinggal di Kampung Cipari. Wanita mandiri yang dikenal sebagai pengerajin tenun gedok ikat Baduy ini punya cara tersendiri dalam hal membuat Minyak Perawan. Selain membuat dengan mengekstrak santan yang dicampur cuka, Ambu pulung juga membuatnya dari urap yang dicampur yuyu.

Urap adalah kelapa parut, dan yuyu (Parathelpusa convexa) adalah ketam atau kepiting sungai.  Sebaskom urap diberi ragi dari yuyu segar yang dihaluskan. Urap dan ragi yuyu diaduk rata, diwadahi selembar daun pisang batu utuh yang masih berpelepah di bagian tengahnya, diberi wadah lain sebagai tatakan, lalu dijemur di teratak halaman atau atap datar rumah

Terpanggang cahaya matahari, urap yang sudah dicampuri ragi yuyu itu berobah warna menjadi kemerah-merahan. Taburan urap itu lantas menghasilkan cairan bening lengket yang leleh ke bagian bawah, dan melalui bagian tengah pelepah daun pisang yang membentuk semacam saluran. Minyak Perawan mengalir dan ditampung Ambu Pulung dalam sebuah wadah. Hebat ya, wanita Baduy. ***

06/09/2021 Pk 09:20 WIB

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.